Pengembangan Web dengan Visual Builder

Sewaktu saya kuliah dulu, baru bisa bikin web dinamis dengan tampilan seadanya aja sudah senengnya minta ampun. Menjelang lulus, dengan sedikit polesan photoshop & CSS sederhana sudah mulai bisa jualan jasa pembuatan website (dinamis dan statis). Kalau sekarang, bayangan saya sih sepertinya tidak semudah itu, karena web sekarang dituntut selain harus dinamis, juga harus SEO friendly, responsive, mobile first, integrasi dengan media sosial, dan lain sebagainya.

Kabar baiknya, metode pengembangan web saat ini juga tidak harus serumit ketika saya kuliah dulu. Oke kita tetap bisa dan boleh saja mengembangkan web from scratch dengan menggunakan PHP, Python, Node.js dan semacamnya. Namun di sisi lain, ada alternatif yang jauh lebih mudah yaitu dengan menggunakan CMS + Visual Builder. Iya Visual Builder, artinya kita men-desain web secara visual dengan drag & drop layaknya menggunakan software grafis seperti Photoshop.

Secara garis besar ada 2 jenis visual builder yang dapat digunakan, yaitu visual builder yang berupa hosted solution dan yang berupa plugin/add-on untuk CMS.

Hosted Solution Website Builder

Saat ini ada beberapa vendor hosting yang menyediakan solusi pembuatan web berbasis visual builder, beberapa yang cukup terkenal antara lain adalah wix, weebly, dan envato sites. Sebenarnya model hosted solution ini tidak jauh berbeda dengan blogging engine provider seperti blogspot atau wordpress.com, di mana kita bisa mendaftar sebagai anggota kemudian memposting konten yang kita inginkan pada web tersebut.

Perbedaan mencolok antara website builder seperti wix dengan blogging provider seperti blogspot adalah, website builder menyediakan visual builder untuk memudahkan pengguna mendesain web mereka sendiri berbasis drag & drop. Sehingga langkah pembuatan web dengan menggunakan aplikasi tersebut adalah pertama sebagai pengguna kita dapat memilih template awal untuk garis besar desain, kemudian kita dapat menambahkan, menghapus, dan mengubah komponen yang ada sesuai dengan selera kita, dan yang terpenting semua itu dilakukan tanpa koding.

wix-editor

Kebanyakan website builder tersebut memang menyediakan skema gratisan untuk uji coba, namun tentu saja juga menyediakan skema pembayaran berkala untuk yang serius membuat web untuk keperluan bisnis. Skema pembayaran berkala tersebut mungkin tidak cocok untuk kita, sehingga kita memerlukan alternatif solusi lain.

Plugin/Add-on CMS

Hosted solution mungkin bukan skema yang tepat untuk beberapa pengguna yang menginginkan kontrol lebih. Untungnya, bagi penggunan CMS yang terkenal seperti Drupal, WordPress dan Joomla, sudah banyak yang membuat plugin untuk visual builder ini. Beberapa contoh plugin visual builder yang cukup terkenal adalah Divi dan Avada untuk WordPress, sedangkan untuk CMS lain saya nggak terlalu paham karena sudah lama tidak mengguanakan CMS selain WordPress. 🙂

Karena saya adalah developer web, saya pribadi lebih cocok menggunakan solusi ini, alasannya tentu saja kontrol yang lebih lengkap, karena source code-nya kita yang pegang sendiri. Kontrol yang dimaksudkan di sini adalah pilihan untuk menggunakan servis hosting di mana saja sesuai dengan budget, dan penambahan fitur yang diinginkan.

Kalau biasanya untuk membangun web kita harus bikin koding untuk tampilan frontend (HTML, CSS, JS) dan juga koding untuk bikin backend-nya (PHP, Python, dll), dengan menggunakan CMS kita cukup melakukan instalasi sederhana dan 5 menit kemudian web sudah jadi dengan fitur standard seperti login admin, manajemen posting, kategori, komentar, dan konfigurasi pengguna. Kemudian untuk desain, kita tinggal menambahkan theme / plugin visual builder tersebut, dan kita dapat men-desain web secara mudah. Dengan menggunakan cara ini, jika dibandingkan dengan pengembangan web konvensional (koding dari awal), kita bisa menghemat waktu sekitar 2 minggu hingga 1 bulan.

Satu lagi kelebihan model Plugin dibandingkan dengan hosted solution  yang menurut saya cukup berpengaruh adalah, banyak yang menyediakan skema pembelian plugin bersifat one time payment bukan monthly maupun early seperti pada hosted solution.

Kelebihan Visual Builder

Saya kira kalau kita membicarakan kelebihan Visual Builder, pastinya ada 3 keuntungan besar yang kita dapatkan yaitu:

  1. Menghemat waktu dan tenaga: Dengan Visual Builder, pengembang bisa lebih memfokuskan pada aspek kreativitas desain dan pengalaman pengguna (User Experience) dibandingkan memikirkan aspek teknis bagaimana koding untuk membuat tampilan yang diinginkan. Selain itu, pengalaman saya sendiri dengan menggunakan visual builder, kolaborasi dengan orang desain grafis pun jadi lebih mudah, karena gambaran porsi apa yang harus dikejakan lebih jelas dan hasilnya bisa segera diimplementasikan.
  2. Mendesain tampilan secara Visual: Desain UI adalah pekerjaan visual, namun ketika kita mengembangkan tampilan untuk aplikasi web dengan cara koding visualisasi desain jadi bersifat abstrak. Dengan menggunakan visual builder, hal ini tidak lagi terjadi, apa yang kita lihat adalah apa yang kita maksudkan.
  3. Penambahan fitur baru: Ini terutama jika kita menggunakan visual builder pada CMS yang cukup terkenal seperti WordPress. CMS opensource seperti wordpress, pastinya sudah didukung banyak sekali plugin yang dapat dipasang dengan mudah. Misalkan jika kita (atau klien) ingin menambahkan fitur baru seperti E-Commerce, Forum diskusi, atau Integrasi sosial media, semua fitur tersebut dapat ditambahkan semudah klik Add Plugins. Sedangkan jika mengembangkan website sendiri secara konvensional, entah perlu tambahan berapa bulan lagi untuk menambahkan semua fitur tersebut.

Kekurangan Visual Builder

Selain kelebihan yang ada tentu saja ada beberapa kekurangan yang patut dipertimbangkan antara lain:

  1. Berbayar: oke banyak CMS yang open source, tapi untuk plugin visual buildernya sejauh yang saya tahu belum ada yang gratis. Syukurlah, menurut saya harganya masih terjangkau, terutama jika dibandingkan dengan kemudahan yang ditawarkan.
  2. Performa menurun: konsekuensi selanjutnya jika kita menggunakan Visual Builder adalah penurunan performa. Kekurangan ini terjadi jika kita menggunakan solusi Plugin dan kemungkinan tidak akan terjadi jika kita menggunakan hosted solution. Selain itu, sejauh pengalaman saya penurunan performa yang terjadi masih tidak terlalu signifikan. Meski demikian, jika menggunakan plan hosting yang sangat-sangat minimalis, sebaiknya jangan menggunakan visual builder karena bisa jadi web anda nggak selesai-selesai loadingnya.
  3. Vendor oriented: ketika kita belajar menggunakan salah satu visual builder (let’s say Divi theme), teknik desain yang kita pelajari hanya dapat diimpelementasikan pada produk tersebut. Suatu saat ketika kita ingin menggunakan produk visual builder lain (let’s say Avada theme), maka kita harus belajar lagi cara menggunakannya.

Bagaimana dengan Web Programmer?

Tulisan ini bukan untuk menyurutkan semangat untuk belajar pemrograman web. Bagaimanapun juga masih banyak jenis aplikasi web yang tidak bisa hanya dibangun dengan hanya menggunakan CMS apalagi Visual Builder. Tujuan dari tulisan ini untuk mengingatkan web programmer untuk menambahkan satu set toolbox baru dalam genggamannya. Persaingan di bidang pengembangan web semakin ketat, sehingga kita harus memiliki berbagai macam teknik yang siap digunakan untuk memenuhi berbagai macam permintaan klien (salah satunya membuat web dengan cepat namun tetap berkualitas).

wordpress-development

Profesi web programmer tetap akan dibutuhkan hingga entah beberapa dekade ke depan untuk mengembangkan aplikasi berbasis web terutama untuk kebutuhan yang unik. Sebagai contoh, pengembangan sosial media yang unik seperti Pinterest atau Instagram, tidak akan mungkin dilakukan hanya dengan menggunakan CMS. Begitu juga aplikasi khusus suatu institusi tertentu seperti halnya SiAdin, juga tidak mungkin dibuat dengan visual builder. Namun untuk pengembangan website dengan kebutuhan umum seperti web profil, blog, e-commerce, dan semacamnya, perangkat semacam CMS dan visual builder ini sangat patut untuk dipertimbangkan (dan dipelajari).

Terakhir, bagaimanapun juga salah satu  “kutukan” untuk kita yang berkecimpung di dunia IT adalah, tidak akan pernah selesai belajar teknologi. Perangkat dan bahasa pemrograman terus berkembang dan kita harus terus mengikuti perkembangan tersebut. Namun sisi baiknya, perkembangan tersebut pada dasarnya adalah untuk semakin memudahkan pekerjaan dan pola hidup kita. Jadi jangan pernah takut dengan teknologi baru, dan selalu bersiap untuk mempelajarinya demi masa depan yang lebih baik.

You May Also Like

About the Author: Fahri Firdausillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *